Welcome to My Blog

Kamis, 25 September 2014

Dampak Pembatasan Solar Bersubsidi

Diposting oleh Unknown di 20.51

          Sesuai dengan Surat Edaran BPH Migas No. 937/07/Ka BPH/2014 tanggal 24 Juli 2014, PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu badan usaha penyalur BBM bersubsidi, akan mulai mengimplementasikan pembatasan BBM bersubsidi, khususnya Solar mulai 1 Agustus 2014. Kebijakan ini diterapkan karena volume kuota BBM bersubsidi dikurangi dari 48 juta KL menjadi 46 juta KL. Kemudian mulai tanggal 4 Agustus 2014, waktu penjualan Solar bersubsidi di seluruh SPBU di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali akan dibatasi dimulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 18.00 untuk cluster tertentu. Penentuan cluster tersebut difokuskan untuk kawasan industri, pertambangan, perkebunan dan wilayah-wilayah yang dekat dengan pelabuhan dimana rawan penyalahgunaan solar bersubsidi.
Sementara itu, SPBU yang terletak di jalur utama distribusi logistik, tidak dilakukan pembatasan waktu penjualan solar. Untuk wilayah-wilayah yang sudah menerapkan pembatasan ataupun pengaturan waktu seperti Batam, Bangka Belitung serta sebagian besar wilayah Kalimantan tetap akan menerapkan aturan sesuai yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah setempat. Selanjutnya, terhitung mulai tanggal 6 Agustus 2014, seluruh SPBU yang berlokasi di jalan tol tidak akan menjual premium bersubsidi, namun hanya menjual Pertamax Series.
Pembatasan solar bersubsidi juga memukul sektor transportasi yang merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Kebijakan ini mengakibatkan banyak transportasi darat dan laut yang terhenti karena kelangkaan solar. Seperti transportasi laut di Kepri yang mulai tanggal 28 Agustus kemarin putus total. Jika tidak ada penambahan kuota maka dikhawatirkan tarif angkutan laut akan naik karena menggunakan solar nonsubsidi.
 Alokasi solar bersubsidi untuk nelayan juga akan dikurangi sebanyak 20% dan penyalurannya diutamakan untuk kapal dibawah 30 GT. Pengurangan ini menyebabkan nelayan- nelayan yang menggunakan kapal 30 GT ke atas kesulitan untuk melaut bahkan berhenti sementara. Mereka harus membeli BBM nonsubsidi yang harganya lebih mahal jika ingin tetap melaut. Kalangan nelayan memprediksi produksi tangkapan nasional akan berkurang 30%- 40%. Hal ini akan mendorong pemerintah untuk mengimpor tangkapan laut dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
Rakyat sebagai konsumen tentu saja khawatir dengan kebijakan ini. Kebijakan ini diprediksi dapat mendorong tingkat inflasi pada akhir Agustus nanti. Masyarakat akan kesulitan untuk beraktivitas terutama yang berhubungan dengan bahan bakar Solar. Berbagai kebutuhan pokok masyarakat juga diprediksi akan naik. Bahkan barang- barang elektronik yang merupakan kebutuhan sekunder juga akan naik. Tentu saja ini akan semakin memberatkan masyarakat terutama masyarakat ekonomi lemah.
Pemerintah sebagai regulator harus berhati- hati dalam mengambil kebijakan karena ini berkaitan dengan kelangsungan hidup negara. Perlu bagi pemerintah mencari solusi terbaik, karena masyarakat sudah dibiarkan hidup konsumtif selama bertahun- tahun. Penyebab bengkaknya subsidi BBM adalah karena banyaknya kendaraan yang beredar di masyarakat. Padahal, masyarakat tidak mampu membeli bahan bakar kendaraan jika subsidi ditiadakan.
Untuk itu, pemerintah harus mengoptimalkan penggunaan transportasi publik di negara ini. Peremajaan dan peningkatan kualitas transportasi publik harus jadi prioritas pemerintahan yang baru. Karena, negara- negara maju seperti Jepang dan Singapura memiliki system transportasi publik yang sangat baik. Jika pemerintah mau mencontoh mereka, masalah BBM yang berlarut- larut akan berkurang dan APBN tidak akan terbebani oleh subsidi.
Kita berharap, pemerintah tidak mengorbankan rakyat dalam mengambil kebijakan. Karena, pemerintah adalah pelindung hak- hak rakyat. Bukan memaksa rakyat untuk menerima segala konsekuensi yang disebabkan ketidaktegasan pemerintah dalam menjalankan fungsinya sebagai regulator.




0 komentar:

Posting Komentar

 

Sonya Bella Vista Tanjung Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei